Post Top Ad

artikelKelas Belajar Menulis

Memberi Arti Lewat Literasi ala Ditta Widya Utami



Memberi Arti Lewat Literasi ala Ditta Widya Utami

Teruslah memberi arti pada setiap orang yang kau temui. Dalam setiap hal yang kau lalui, dan untuk setiap waktu yang kau miliki. Sebutir pasir yang banyak dijumpa”.

(Ditta Widya Utami)

 

Selalu ada sosok inspiratif di Kelas Belajar Menulis bersama Om Jay. Malam ini, Rabu (02/09/2020) malam, peserta Kelas Belajar Menulis angkatan ke-15 kembali mendapatkan motivasi dan pencerahan dari narasumber hebat. Adalah Ibu Ditta Widya Utami, guru penggerak dan pegiat literasi yang tergabung dalam berbagai komunitas literasi. 

Namun kepada ratusan peserta dari seluruh Indonesia, neng Ditta tidak hanya  berbagi pengalaman dan motivasi menulis. Ibu satu anak ini juga berbagi informasi penting tentang buku, ‘’Menyongsong Era Baru Pendidikan” yang ditulisnya bersama Prof Eko. 

 

Berawal dari Mimpi yang Memotivasi

Kisah sukses orang-orang hebat selalu berawal dari mimpi. Ini sudah menjadi takdir orang-orang sukses di alam semesta ini. Takdir Ilahi yang sifatnya kauni kepada hamba-Nya yang sukses meraih prestasi dan berbagi umumnya bermula dari mimpi. Mimpi meraih sukses, bahagia dan meneabar manfaat kepada sesama.

Tidak berlebihan kiranya jika saya nyatakan, kisah sukses guru Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam bermula dari mimpi. Ini terkonfirmasi sendiri oleh pengakuan Neng Ditta, ketika mengawali penyampaian materi malam ini.

“Saya masih ingat ketika kuliah pernah menuliskan 100 target mimpi yang ditulis pada sebuah karton besar dan ditempel di dinding kamar kos”, ungkapnya.

Salah satunya  kata Ibu Guru Penggerak ini  adalah mimpi menulis buku.

“Hari demi hari, satu per satu impian saya terwujud. Setiap ada satu mimpi yang terwujud, langsung saya coret dari daftar (agar punya ruang untuk mimpi-mimpi baru)”, jelasnya.

Sehingga semakin lama, semakin banyak mimpi yang dicoret (di atas karton) karena Allah berkenan mewujudkan mimpi dan impiannya satu per satu.

Saat itu,  kata alumni Pendidikan Kimia  Universitas Pendidikan  Indonesia (UPI)   angkatan 2008-2012 ini mimpi untuk menulis buku sebenarnya sudah terwujud.  Yaitu  ketika  ia  bersama teman-temannya  mengikuti lomba kreativitas mahasiswa tingkat jurusan dan meraih juara dua dengan skor yang berbeda tipis dari peringkat pertama.

“Kami membuat buku "Seri Petualangan Kimia". Karena hanya dibuat satu sebagai prototipe, mimpi menulis buku belum saya coret di atas karton”, kenangnya.

Mungkin ia merasa karya yang ditulis dalam lomba tersebut belum layak dianggap sebagai buku. Sehingga, “Saat itu saya masih berharap, bisa menghasilkan karya berupa buku”, terangnya.

 

Aktif di MGMP dan Komunitas Literasi Lahirkan Buku Perdana

Impian menulis buku justeru baru terwujud sepuluh tahun kemudian. Yakni ketika beliau aktif di komunitas litearasi dan Musyawarah Guru Mata Pelalajaran IPA Kabupaten Subang.

“Selang 10 tahun kemudian, saya ikut dalam kepanitiaan Workshop Best Practice yang diselenggarakan MGMP IPA Kab. Subang”, kenangnya lagi.

Hasil workshop tersebut kemudian diabadikan dalam bentuk buku. Gayung bersambut, anggota Komunitas Pengajar Penulis Jawa Barat  (KPPJB) ini mendapatkan kepercayaan dari Bu Hj. Rita Rosidah, M.MPd. selaku ketua MGMP IPA Kab. Subang untuk menyunting buku hasil dari workshop tersebut. Penyuntingan buku yang diberi judul ‘’Jejak Langkah Guru Subang” ini dilakukannya bersama Ibu Supratpi, S.Pd., dan Hj. Rita.

“Tentu kebahagiaan tersendiri bagi kami”, ungkapnya.

Setelah buku Jejak Langkah Guru Subang, beliau pun ikut menulis dalam buku antologi bersama di komunitas-komunitas literasi yang diikutinya.

 

Lelaki di Ladang Tebu Lahir sebagai Buku Solo Pertama

Selain menulis buku antolagi bersama anggota komunitas literasi yang ia ikuti,  anggota Lisangbihwa (Literasi Subang Bihari dan Berwibawa) mulai merambah buku solo. Buku solo pertama yang ditulisnya adalah “Lelaki di Ladang Tebu”.  Buku ini terbilang luar biasa. Karena ditulis dalam tempo singkat. Hanya sebulan.


“Maret-April 2020 adalah bulan penuh kebahagiaan bagi saya. Karena dalam satu bulan itulah buku solo pertama saya yang berjudul Lelaki di Ladang Tebu lahir”, kenangnya.


Buku  Lelaki di Ladang Tebu ujar guru pencinta literasi ini merupakan kumpulan cerpen pendidikan yang konfliknya diambil dari kisah nyata. “Hanya saja dinarasikan ulang menjadi sebuah cerpen”, imbuhnya.


Ia menulis buku ini sebagai refleksi dan muhasabah dari kisah para murid yang menginspurasi. Memang sebagai pendidik kadang secara tidak sadar kita belajar arti kehidupan dari orang-orang di sekitar kita.

“Saya tulis buku ini untuk mengabadikan kisah-kisah para murid yang telah menjadi guru kehidupan bagi saya. Betapa mereka (baik dengan sifat baik atau sebaliknya) mampu memberi pelajaran yang berarti dalam hidup ini”, ungkapnya.

Silakan jika berkenan, pembaca dapat  membaca testimoni buku ini di : https://www.instagram.com/dittawidyautami/

 

Ikut Kelas Menulis Omjay

Walau telah sukses menghasilkan buku, semangat belajarnya terus menyala.  Selain aktif di berbagai komunitas literasi ia terus memperluas jaringan guna menambah pengetahuan dan pengalaman menulis. Ia bergabung dengan Kelas Menulis Omjay angkatan ke-7.

 

“26 Maret 2020 saya bergabung dalam grup menulis via WA Grup bersama Omjay dkk. Awalnya saya masuk gelombang 8 kemudian pindah ke gelombang 7 karena masih ada kuota untuk 2 orang”, kenangnya.

 

Menurutnya banyak sekali manfaat dan kebahagiaan yang  ia rasakan dengan mengikuti grup ini. Misalnya ketika mendapat hadiah kejutan dari Omjay dan kawan-kawan.

 

Di angkatan saya, kata Neng Ditta, Omjay selalu memotivasi peserta untuk terus menulis setiap hari. Sesekali di hari antara jeda materi, beliau mengirim foto (ketoprak, kucing, kue kacang, apa pun) untuk kemudian dijadikan ide menulis.

Ibu Ditta juga menyelingi penyampaian materi motivasinya dengan berbagi kenangan mendapatkan hadiah Ruthob (kurma muda) dari KSGN dan PGRI.

 

“Sedangkan tulisan ini adalah tulisan yang mengantarkan saya mendapat sepaket kurma ruthob dari KSGN dan PGRI”,

 

Demikian pula dengan tulisan ini.

Tulisan  tersebut  kata dia “mengabadikan ingatan saya ketika mendapat hadiah kejutan berupa buku dari PGRI karena salah satu resume yang telah saya buat”.

 

Tak berhenti sampai di situ. Melalui grup menulis bersama Omjay ini,  beliau kembali ikut menulis  dua  buku karya bersama.

Pertama bersama Prof. Eko Indrajit, sedangkan yang kedua bersama Ibu Kanjeng, Pak Brian dan teman-teman guru blogger lainnya.

 

"Menyongomg Era Baru Pendidikan" Sebagai Buku Mayor Pertama

Sukses yang berkah adalah kesuksesan yang menjadi batu bata kesuksesan berikutnya. Selalu ada pertumbuhan dalam keberhasilan yang diberkati sang Ilahi Rabbi. Dan nampaknya inilah yang terjadi pada  anggota PGRI (Persatuan Guru Republik Indonesia) Kab. Subang ini. Kini ia telah melahirkan tujuh buku.

Adalah buku “Menyongsong Era Baru Pendidikan (2020) menjadi buku ketujuh yang berhasil ditulis Ibunda dari Muhammad Fatih Musyfiq ini. Buku ini ditulis bersama  Prof. Eko Indrajit.

Bermula pada Senin  13/04/2020) lalu peserta grup menulis bersama Omjay angaktan ke-7 mendapat materi tentang menulis buku dalam seminggu yang disampaikan oleh Prof. Eko Indrajit.

Penyampaian yang luwes, sikap yang bersahaja, membuatnya menikmati pemaparan beliau. Hingga akhirnya beliau (Prof Eko) menyampaikan tantangan menulis buku dalam seminggu.

Beliau meminta para peserta untuk memilih tema yang ada di channel youtube beliau (Ekoji Channel) : https://www.youtube.com/channel/UCa3LCo2Zjy_h_NaWz1V2jOw

Bagi yang siap ikut tantangan, bisa langsung mengirimkan judul beserta outline buku kepada beliau.

 

Proses Menulis Buku dengan Prof. Eko

Bu Ditta termasuk diantara peserta yang menerima tawaran Prof Eko.

Berikut kisah singkat  suka duka Bu Ditta menulis buku dalam seminggu, sebagaimana dituturkannya kepada peserta kelas menulis bersama Omjay malam ini:

 

15 April 2020

Saya mengirimkan judul beserta outline buku kepada Prof. Eko. Alhamdulillah di acc.

Setelah itu, setiap hari saya menulis satu BAB hingga 21 April 2020. Selesai.

Ya, selesai seluruh draft! Alhamdulillah. Selanjutnya tinggal bimbingan untuk proses editing.

Ini adalah salah satu rahasia dalam menulis buku. Selesaikan seluruh draft dari daftar isi hingga daftar pustaka, baru kemudian edit.

Jika selesai satu bagian kita langsung mengedit, yakin deh nggak akan selesai-selesai bukunya. Atau bisa selesai, tapi dalam waktu yang relatif lama. Karena apa?

Proses editing-lah yang sebenarnya memakan porsi waktu paling banyak dalam proses pembuatan buku.

Para penulis yang mulanya berjumlah 20 orang dipertemukan dalam satu grup yang dibuat oleh Prof. Eko. Dari jumlah tersebut, ada 9 orang yang akhirnya misi menulis buku bisa sampai diterbitkan.

Proses menulis buku bersama Prof. Eko tuh berasa seperti menulis skripsi. Hanya saja, kali ini terasa lebih menyenangkan. Hehe. Menurrutnya berasa nulis skripsi karena deadline nya jelas dan harus presentasi di hadapan Prof. Eko. Tapi yang paling penting karena ada proses bimbingannya  oleh Prof Eko.

“Bagaimana tidak? Prof. Eko begitu ramah dan sabar dalam membimbing kami”, kenangnya lagi.

4 Juni 2020  adalah hari yang mendebarkan. Inilah hari pengumuman apakah naskah kami lolos atau tidak.

Pengumuman dilakukan via zoom meeting yang dihadiri oleh Pak Joko sebagai perwakilan dari Penerbit Andi, Omjay dan tentu saja Prof. Eko beserta anak didiknya

Saat itu, Prof. Eko berulang kali membesarkan hati kami agar memantapkan hati menerima apa pun hasilnya. Karena dari semua naskah yang masuk, masih ada yang harus revisi minor, revisi mayor dan ada yang langsung diterima.

Alhamdulillah, saya bersyukur karena naskah Menyongsong Era Baru Pendidikan termasuk yang langsung diterima.

 

Proses di Penerbit

Sejak pengumuman lulus/tidaknya naskah, selebihnya proses di penerbit mayor. Editing, layout, dsb.

12 Juli 2020 saya menerima naskah proof. Naskah yang siap naik cetak tapi butuh dicek untuk terakhir kalinya oleh penulis. Naskah ini dikirim langsung ke penulis beserta surat perjanjian (kontrak).

Setelah selesai dicek, dikirim kembali ke penerbit.

 

Ada Apa dengan Era Baru Pendidikan?

Selain berbagi pengalaman menulis, bu Ditta  juga mengungkapkan alasan beliau mengapa memilih tema era baru pendidikan.

Beliau memilih tema ini setelah melihat tayangan berjudul UNESCO Competency Framework for Teachers di Ekoji Channel (channel YouTube Prof. Eko)

 

Dalam video ini dibahas tentang kompetensi teknologi informasi apa saja yang harus dimiliki guru berdasarkan standar UNESCO.

 

Sekali Lagi, Mengapa Harus “Menyongsong Era Baru Pendidikan”?

Sebelum menjawab pertanyaan tersebut beliau mengungkapkan tiga alasan  dalam menulis.

Baginya ada tiga tujuan dan alasan menulis, yaitu;  

1.       Menulis untuk mengabadikan momen

Contoh tulisan ini adalah ketika kita menuliskan kisah saat mendapat hadiah kejutan dari Omjay, saat Bapak/Ibu menjadi pemenang lomba blog, dsb.

2.       Menulis untuk mengabadikan buah pikiran

Nah kalau ini lebih serius tulisannya. Best Practice, PTK, artikel ilmiah, atau apa pun yang nulisnya terkadang membutuhkan referensi lain.

3.       Menulis untuk kebutuhan

Tujuan menulisnya karena ada kebutuhan yang harus dipenuhi. Kebutuhannya bisa macam-macam. Misalnya untuk mendapat kesenangan, untuk menyalurkan hobi, dll.

Menurutmua  buku “Menyongsong Era Baru Pendidikan” ini dibuat untuk memenuhi kebutuhan guru/pendidik saat ini.

Mengapa demikian?

Pendidik saat ini berhadapan dengan peserta didik generasi millenials yang disebut pula dengan enerasi  Z dan generasi A.  Baik generasi Z (lahir antara 1995-2010) maupun generasi A (lahir setelah 2010), keduanya merupakan generasi yang dekat dengan teknologi.

Oleh karena itu, pendidik mau tidak mau harus bisa menguasai atau minimal mnggunakan berbagai teknologi informasi dalam proses pembelajaran.

Meski teknologi hanyalah alat, tapi memanfaatkan teknologi dalam proses pembelajaran bahkan telah menjadi kriteria kompetensi pedagogi dan profesional bagi seorang guru.

Selain itu, adanya pandemi Corona mengharuskan kita sebagai pendidik untuk mulai menggeser proses pembelajaran konvensional menjadi pembelajaran-pembelajaran inovatif yang salah satunya dengan memanfaatkan teknologi informasi.

Oleh karena itu, kita harus siap Menyongsong Era Baru Pendidikan.

Namun demikian buku Menyongsong Era Baru Pendidikan ibarat appetizer (hidangan pembuka) dalam suatu jamuan makan yang berfungsi merangsang nafsu makan sebelum hidangan utama (Main Course) dinikmati.

 

Suguhan yang terkandung dalam buku ini, diharapkan mampu meningkatkan semangat Bapak dan Ibu  guru untuk mengembangkan kompetensinya di bidang teknologi informasi yang kemudian dapat diintegrasikan ke dalam proses pembelajaran.

Lalu apa menu utamanya?

Menu utamanya adalah bagaimana Bapak/Ibu  guru melakukan pengembangan diri setelah membaca buku ini.

Buku ini merupakan pengembangan kompetensi TIK yang sebaiknya dimiliki oleh seorang guru.

Dengan membaca buku ini, kita bisa tahu saat ini sudah mencapai level mana.

Tapi manfaatnya akan jauh lebih besar apabila bapak dan ibu lanjut dengan mengembangkan diri.

Entah itu mengikuti Diklat tentang TIK, pembelajaran inovatif, apapun yang pada akhirnya menaikkan level kita sesuai standar UNESCO.

Kita harus optimis dalam  menyongsong era baru pendidikan dimana semua akses informasi bisa didapat dengan mudah. Kapan saja, dimana saja, dan oleh/dengan siapa saja.

Proyek Palapa Ring atau istilah lainnya "Tol Langit" yang dilaksanakan pemerintah  semoga menjadi salah satu jalan yang semakin memudahkan akses teknologi informasi di negara kita yang berbentuk kepulauan.

Terus Berkarya dan Berbagi

Alhasil berawal dari mimpi yang ditindaklanjuti dengan aksi dan komitmen memberi arti pada setiap orang ditemui di setiap hal yang dilalui untuk setiap waktu yang dimiliki. Inilah rahasia sukses neng Ditta sukses (sampai hari ini) telah menulis tujuh buku.

“Teruslah memberi arti pada setiap orang yang kau temui. Dalam setiap hal yang kau lalui, dan untuk setiap waktu yang kau miliki. Sebutir pasir yang banyak dijumpa”, pungkasnya[]

  

Realted Posts

22 komentar:

  1. Mantap pa, ayo kita terus beliteraai menyongsong era baru pendidikan

    BalasHapus
  2. Balasan
    1. Trimkasih atas kunjungan dan komentarnya.

      #Salamliterasi

      Hapus
  3. Balasan
    1. Trimkasih atas kunjungan dan komentarnya.

      #Salamliterasi

      Hapus
  4. Wah, mantap resumenya. Terima kasih, Pak 👍🏻

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama Bu. Trimakasih atas kunjungan dan komentarnya. Nuhun.

      #Salamliterasi

      Hapus
  5. Balasan
    1. Trimakasih Bu atas kunjungan dan komentarnya.

      #Salamliterasi

      Hapus
  6. Mantap resume nya Pak..saya suka bacanya ,terus berliterasi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Trimakasih atas komentar dan kunjungan nya.

      #Salamliterasi

      Hapus
  7. Salam, saudara. Renyah, enak dibaca. Pantas deh dapat hadiah buku. Selamat, ya!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Trimakasih atas kunjungan dan komentarnya.

      #Salamliterasi

      Hapus

Post Top Ad