Post Top Ad

Bahan AjarSejarah

Sejarah| Sejarah Sebagai Persitiwa dan Kisah


Sejarah Sebagai Peristiwa dan Kisah

Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia (KUBI) kata sejarah yang sehari-hari digunakan dalam percakapan maupun tulisan-tulisan selalu bermakna dua makna:

(1) peristiwa dan kejadian di masa lampau; atau

(2) kisah dan cerita mengenai apa yang terjadi di masa lampau, baik yang dituturkan secara lisan maupun ditulis dalam buku-buku.

Dalam pelajaran-pelajaran sejarah, makna pertama biasa dikenal dengan istilah sejarah sebagai peristiwa (history as event). Sementara  makna kedua disebut sejarah sebagai kisah atau sebagai cerita (history as written).

Sejarah dapat pula diartikan sebagai “ilmu sejarah” sebanding dengan sosiologi, antropologi, dan lainnya.


Sejarah Sebagai Peristiwa


Kita biasa mendengar ungkapan “Sejarah hidup yang sudah kita lalui akan meninggalkan jejak”.  Kata “sejarah” dalam kalimat di atas artinya “sesuatu yang terjadi pada masa lalu.” Nanti akan kita bedakan maknanya dalam konteks kalimat yang lain. Sejarah dalam pengertian ini akan dialami oleh siapa saja. Setiap orang yang hidup dan bertumbuh pasti akan melalui masa lalu yang dipenuhi berbagai peristiwa-peristiwa unik.


Sejarah sebagai peristiwa di masa lalu, bahkan sekalipun hanya sedetik yang lalu, adalah sesuatu yang tidak mungkin diulang. Apa yang terjadi di masa lalu akan terkubur bersama berlalunya waktu. Pada kehidupan yang akan datang (akhirat) apa yang sudah terjadi itu tinggal dipertanggungjawabkan. Semuanya sudah pasti terjadi dan tidak bisa diubah-ubah lagi. Malaikat sudah mencatatnya secara pasti pula. Hanya saja, catatan itu ghaib. Tidak ada satu manusia pun yang bisa menconteknya.


Kenyataan sejarah yang sudah terjadi inilah yang sering diulang-ulang dalam Al-Quran, antara lain dalam ayat berikut, "itu adalah umat yang lalu; baginya apa yang telah diusahakannya dan bagimu apa yang sudah kamu usahakan, dan kamu tidak dimintai pertanggungjawaban tentang apa yang telah mereka kerjakan". (Al-Baqarah [2]: 134).


Pada ayat ini, Allah Swt. yang sebelumnya menceritakan berbagai peristiwa yang tetjadi pada umat terdahulu (Musa, Ibrahim, Bani Israil, dan yang lain) mengakhiri penjelasannya, bahwa semua itu sudah berlalu. Apa yang telah berlalu tidak mungkin berulang lagi. Apa yang mereka kerjakan adalah tanggung jawab mereka. Kita yang tidak ikut-ikutan dalam peristiwa itu tidak akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dikerjakan orang lain.   


Walaupun secara moral, kita tidak akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang terjadi di masa lalu, dan masa lalu sebagai “peristiwa” tidak akan kembali lagi, namun ada perintah dari Allah untuk membaca dan berkaca pada masa lalu. Tentu saja masa lalu yang dimaksud bukan selalu yang benar-benar yang dilihat dan disaksikan sendiri. Bahkan, sebagian besar tidak disaksikan sendiri. Sejarah yang harus dibaca dan dijadikan cermin adalah sejarah dalam arti “kisah sejarah” yang akan dijelaskan berikut.


Sejarah Sebagai Kisah

Banyak orang mengatakan, “Bacalah sejarah”! “Belajarlah dari sejarah”! Kata sejarah dalam kalimat-kalimat ini tentu saja bukan peristiwa di masa lalu melainkan hanya rekaman dan ingatan dari masa lalu yang kemudian dirangkai menjadi sebuah kisah bermakna. Ihwal yang dijadikan objek cerita memang “peristiwa yang terjadi pada masa lalu,” namun yang kita baca dan kita pelajari bukan masa lalu itu sendiri, melainkan “ceritanya”.


Cerita tentang masa lalu disusun berdasarkan ingatan seseorang atau berdasarkan jejak-jejak sejarah yang ditinggalkan berupa tulisan dan benda-benda. Bentuk ceritanya bisa dalam bentuk lisan maupun tertulis. Cerita dalam bentuk lisan disebut sebagai sejarah lisan. Hanya saja, sejarah lisan sudah sangat jarang kita temukan di masa sekarang. Kalaupun ada salah satu disiplin “sejarah lisan” dalam historiografi modern, bentuk penyajiannya tetap harus ada yang tertulisnya (transkrip). 

Oleh sebab itu, cerita sejarah yang umum dan dominan dibuat dalam bentuk tertulis. Tidak mengherankan pula kalau sejarah sebagai peristiwa ini juga disebut sebagai history as written (sejarah sebagaimana yang dituliskan); dan karya sejarah disebut historiography (tulisan sejarah).


Pada masyarakat tertentu ada yang sangat kuat memelihara tradisi lisan yang mengabadikan penggalan-penggalan kisah masa lalu mereka dalam ingatan mereka. Ingatan itu kemudian secara turun-temurun diwariskan kepada generasi berikutnya menjadi suatu tradisi lisan yang kuat. Salah satu contoh paling baik mengenai pemeliharaan ingatan (hafalan) akan peristiwa-peristiwa masa lalu ini adalah periwayatan hadis dalam tradisi Islam.

 

Hadis disampaikan oleh Rasulullah kepada para sahabat secara lisan kemudian disampaikan kembali kepada generasi berikutnya secara lisan pula sampai akhirnya dikumpulkan dalam bentuk kumpulan-kumpulan kitab hadis seperti Al-Muwaththa' Imam Malik, Sahih al-Bukhari, Sahih Muslim, Sunan Abu Dawud, Musnad Imam Ahmad, dan sebagainya. Sekalipun ada juga sebagian sahabat yang mencatat peristiwa-peristiwa yang mereka alami bersama Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Namun pada umumnya ingatan dan hafalan lebih dominan di gunakan.


Apa yang dikumpulkan oleh para mukharrij hadis seperti Imam Ahmad, Imam al-Bukhari, dan lainnya bukan merupakan satu rangkaian cerita utuh mengenai berbagai peristiwa. Pada umumnya yang mereka kumpulkan hanya penggalan-penggalan cerita yang masih harus direkonstruksi agar menjadi satu jalinan cerita yang wajar. Kalau sudah dijalin menjadi satu kisah barulah akan disebut sebagai suatu “cerita sejarah”. Kumpulan-kumpulan hadis ini tepatnya disebut sebagai “sumber sejarah”, bukan sebagai “buku sejarah”. Hal yang sama berlaku pula bagi


Al-Quran yang juga banyak menceritakan berbagai peristiwa di masa lalu. Hanya saja, bedanya dengan hadis, kisah-kisah yang ada dalam Al-Quran sejak zaman Rasulullah Saw sudah dituliskan dalam berbagai media.

 

Selain berdasarkan pada informasi lisan (hafalan dan ingatan), penyusunan cerita masa lalu juga dilakukan dengan mendasarkan pada peninggalan jejak tertulis dan benda-benda. Jejak tertulis disebut sebagai “dokumen”, sedangkan jejak berupa benda disebut “artefak”. Dokumen-dokumen tertulis dapat memberikan informasi mengenai suatu hal di masa lalu, demikian pula benda-benda.


Ada ilmu modern khusus untuk mempelajari dokumen-dokumen dan benda-benda itu sehingga dapat meyakinkan bila dijadikan sebagai sumber sejarah. Untuk mempelajari dokumen ada ilmu kearsipan dan filologi. Untuk mempelajari peninggalan sejarah berupa benda para ilmuwan modern menciptakan ilmu arkeologi. llmu-ilmu ini adalah ilmu yang sangat membantu para sejarawan untuk menentukan mana bahan-bahan yang baik untuk di jadikan sumber cerita sejarah yang akan dibuatnya.

 

Kalau kita membaca “kisah-kisah” sejarah, pasti tidak pernah akan ditemukan satupun cerita sejarah yang merinci segala hal yang terjadi di masa lalu sampai kepada detil-detilnya. Misalnya, ada peristiwa Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945. Apa yang diceritakan di sana? Apakah ada cerita Sukarno mandi dulu sebelum pergi ke Lapang Ikada? Apakah Sukarno sarapan dulu? Apakah di sekitar Lapang Ikada waktu itu ada yang jual makanan? Mungkin saja apa yang ditanyakan tadi terjadi di masa lalu. Namun, dalam berbagai tulisan sejarah mengenai Proklamasi tidak pernah ditemukan cerita-cerita seperti itu.

 

Kenyataan ini mununjukkan bahwa suatu cerita sejarah tidak pernah ada yang menceritakan masa lalu sampai ke detil-detilnya seperti yang sebenarnya terjadi. Oleh sebab itu, para ahli sejarah memberikan kriteria mengenai hal-hal yang biasanya dituliskan sebagai sebuah cerita sejarah. Kriterianya adalah: penting dan unik. Kedua kriteria inilah yang pada umumnya dijadikan patokan untuk memilih apa yang harus diceritakan.

 

Di sinilah letak perbedaan mendasar antara sejarah sebagai cerita dengan sejarah sebagai peristiwa. Sejarah sebagai peristiwa isinya segala macam ada. Segala peristiwa yang dialami manusia terjadi di sana, penting ataupun tidak penting menurut pandangan kita. Akan tetapi, saat akan diceritakan kembali akan dipilih cerita yang dianggap penting dan unik (jarang terjadi).

 

Cerita apa yang penting itu? Tidak ada ukuran yang saklek (zakelijk) untuk menentukannya. Ukuran penting dan tidak penting dikembalikan kepada si penulis sejarah. Setiap orang akan memiliki kriteria penting dan tidak penting sesuai dengan kecenderungan pribadi dan lingkungannya. Bisa jadi satu peristiwa menurut A penting, tapi menurut B tidak.

 

Sementara itu, mengenai cerita sejarah yang unik, maksudnya bahwa cerita yang dituturkan adalah khas dan belum diceritakan orang lain. Pada dasamya semua cerita sejarah unik. Tidak ada yang terjadi dua kali di tempat yang sama dan pada waktu yang sama. Namun, maksud keunikan yang dipilih sebagai cerita sejarah adalah bahwa cerita yang dipilih bukan merupakan cerita yang sudah diceritakan orang lain. Bisa jadi, subjek dan tema cerita yang dipilih sama. Namun, kalau ada jalinan cerita baru yang berbeda dengan cerita-cerita yang sudah ada, maka kisah ini tetap dikatakan “unik”. []

Sumber: Sejarah Nasional  Indonesia Perspektif Baru, 


Realted Posts

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Top Ad