Post Top Ad


 

Pagi ini seorang teman menulis di grup guru sekolah kami;


Dalam literasi Jawa "GURU" berasal dari perpaduan antara GUGU dan TIRU.

 

Gugu merujuk pada ucapan atau perkataan yang dapat dijadikan pegangan, dipercaya dan penuh hikmah.

Sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  mengingatkan "berkata yang baik atau diam"

 

Tiru, merujuk pada perilaku atau perbuatan yg dapat dijadikan contoh untuk di ikuti dan ditiru.

Rosulullah memberi contoh "sholatlah sebagaimana engkau melihatku"

 

Sungguh amanat yang amat besar sebagai seorang GURU, bahwa setiap perkataan dan perbuatannya menjadi contoh bagi SANTRI.

 

Benar, guru itu digugu dan ditiru. 

Digugu artinya dapat dipercaya. Sedangkan ditiru mksudnya jelas. Karena kata tiru telah menjadi bahasa baku dalam bahasa Indonesia. Ditiru merupakan sinonim dari diikuti.


Karena itu ungkapan dalam tradisi Jawa "Guru Sing Digugu lan Ditiru", artinya guru itu harus dapat dipercaya dan ditiru atau diikuti. 

Dipercaya dan diikuti dalam hal apa?

Tentu dalam segala aspek kebaikan.  Dan yang paling utama adalah pipercaya punya integritas dan kapasitas keilmuan.

Guru yang integitas dan kapasitas keilmuannya dipercaya oleh para murid, tentu akan menjadikan guru tersebut mudah untuk kemudian meniru dan mengikuti sang guru. Sebab tidak ada keinginan  meniru dan mengikuti tanpa didasari oleh kepercayaan.

Karena tugas guru adalah mendidik dan mengajar, maka guru benar-benar dapat dipercaya dan diikuti dalam apa yang dia ajarkan dan didikkan kepada para muridnya.

Akan sulit bagi murid mengikuti arahan dan perintah guru jika guru tidak dipercaya oleh murid akan kapasitas keilmuan yang diajarkannya. Dan akan lebih mudah bagi murid meniru jika guru mampu menjadi contoh dari apa yang diajarkannya.


Misalnya guru Mate-matika. Tentu harus dapat dipercaya oleh murid akan kapasitas kemampuannya dalam menguasai materi pelajaran matematika. Kepercayaan murid akan bertambah jika guru nampak di hadapan siswa menyelesaikan contoh soal matematika, misalnya. 

Contoh lain, guru Bahasa misalnya. Murid akan percaya dan mau meniru sang guru jika guru tersebut memang mengusai  materi yang diajarkan. Dan murid akan lebih mudah meniru jika guru menjadi contoh dalam berbahasa yang baik dan benar, yakni menguasai ragam keterampilan berbhasa, seperti menyimak, membaca, berbicara, dan menulis.


Murid akan mudah paham jika guru misalnya dapat mencontohkan dengan baik cara menyusun kalimat, paragraf dan teks misalnya. Sebab murid akan kesulitan percaya dan mengikuti, jika guru menuruh membuat satu teks tulisan, tapi gurunya sendiri tidak punya  teks tulisan sama sekali. 


 

 


Realted Posts

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Top Ad