Post Top Ad

Artikel Islami

Puasa Sebagai Perisai, Perisai dari Apa?

 



Di antara keistimewaan puasa adalah bahwa puasa merupakan perisai bagi seorang muslim. Sebagaimana dikabarkan oleh Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam melalui sabdanya yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim.

 

الصِّيَامُ جُنَّةٌ

Puasa adalah perisai” (H.R. Bukhari dan Muslim).

Perisai dari apa?

Yakni perisai dari berbagai keburukan dan bahaya di dunia dan di akhirat.

Di dunia puasa menjadi perisai yang menghalangi sesorang dari perbuatan buruk. Sedangkan di akhirat puasa menjadi perisai yang melindungi pelakunya dari adzab dan neraka.

Dalam riwayat Imam Thabrani dari Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu ditegaskan bahwa

 

الصيام جُنة وهو حصن من حصون المؤمن

Puasa itu adalah perisai yang merupakan salah sati benteng pelindung orang beriman.(HR. Thabrani)

Puasa Sebagai Perisai dari Perbuatan Buruk

Di dunia puasa merupakan perisai yang menghalangi dari perbuatan buruk dan dosa. Sebagiamana disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

وَالصِّيَامُ جُنَّةٌ، وَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ  أَحَدِكُمْ، فَلاَ يَرْفُثْ وَلاَ يَصْخَبْ، ولا يجهل،فإن شاتمه أحد أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ: إِنِّي صَائِمٌ

Puasa itu adalah perisai, oleh karena itu pada hari seorang diantara kalian sedang puasa hendaknya tidak berkata keji, berteriak-teriak, dan bertindak bodoh, jika ada orang yang mencercanya atau memeranginya, maka ucapkanlah, ‘Aku sedang berpuasa” (H.R. Bukhari dan Muslim).

Melalui hadits qudsi ini Allah menganjurkan agar saat puasa seorang Muslim tidak merusak puasanya dengan perbuatan buruk seperti berkata keji, berteriak-teriak, dan bertindak bodoh. Sebab tindakan tersebut bertentangan dengan maksud dan tujuan puasa.

 

Ibu Atsir berkata dalam An-Nihayah, maksud daripada puasa sebagai perisai adalah “puasa dapat melindungi pelakunya dari hal-hal yang mengganggunya berupa nafsu syahwat”.

 

Artinya puasa sebagai perisai bermkana melindungi dan memelihara pelakunya dari terjatuh ke dalam maksiat yang mengudang adzab.

Dengan demikian dapat dikatakan, puasa merupakan benteng pelidung yang menjaga pelakunya dari memperturutkan hawa nafsu yang pada gilirannya dosa tersebut menjerumuskannya ke dalam neraka.

Ibnu Rajab mengatakan dalam Jami’ul Ulum wal hikam, “Jika seorang hamba memiliki perisai yang melindunginya dari perbuatan maksiat maka dia akan memiliki perisai dari neraka di akhirat. Sedangkan bagi yang tidak memiliki perisai dari perbuatan maksiat di dunia maka dia tidak memiliki perisai dari api neraka di akhirat. (Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam).

 

Di Akhirat Puasa Menjadi Perisai dari Adzab Neraka

Jika puasa dapat melindungi pelakuaknya dari syahwat dan perbuatan maksiat di dunia, maka di akhirat puasa menjadi pelindung dari adzab neraka. Rasul bersabda;

الصيام جُنة من النار كجنة أحدكم من القتال

Puasa adalah perisai dari neraka  seperti perisai salah seroang diantara kalian di medan perang

Di hadits lain Rasul bersabda, Allah berfirman

الصِّيَامُ جُنَّةٌ يَسْتَجِنُّ بِهَا الْعَبْدُ مِنَ النَّارِ، وَهُوَ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ

 

Puasa adalah perisai, yang dengannya seorang hamba membentengi diri dari api neraka, dan puasa itu untuk-Ku, Aku-lah yang akan membalasnya” (H.R. Ahmad).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 

ما من عبد يصوم يوما في سبيل الله إلا باعد الله بذالك وجهه عن النار سبعين خريفا

“Tidaklah seorang hamba yang berpuasa di jalan Allah kecuali akan Allah jauhkan dia (karena puasanya) dari neraka sejauh tujuh puluh musim” (H.R. Bukhari dan Muslim)

 

Jaga Perisaimu

Perisai dapat menahan serangan jika tetap kuat dan kokoh serta tidak jebol. Perisai yang bolong dipastikan tidak dapat berfungsi dengan baik. Demikian pula dengan puasa sebagai perisai. Puasa sebagai perisai akan berfungsi melindungi pelakunya jika dari adzab neraka jika dijaga dengan baik. Puasa harus dijaga dari hal-hal yang dapat merusaknya dan atau mengurangi kekohannya.

Imam Ahmad dan Ad-Darimi meriwayatkan dari Abu Ubaidah bin Jarrah radhiyallahu ‘anhu. Beliau berkata, aku mendengar  Rasul bersabda;

الصوم جُنَّةٌ، ما لم يخرقها

“Puasa itu adalah perisai selama seseorang tidak mengoyaknya”.

Menurut Ad-Darimi amalan yang bisa merusak fungsi puasa sebagai perisai adalah ghibah. Hal ini menunjukan bahwa ghibab dapat mempengaruhi kesempurnaan puasa atau dapat mengurangi pahala puasa.

Selain ghibah yang dapat merusak puasa adalah dusta. Bahkan Rasul mengabarkan bahwa Allah tidak memiliki hajat terdahap puasa yang pelakunya tidak meninggalkan dusta saat puasa.

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,

 مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ اَلزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ, وَالْجَهْلَ, فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

“Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan mengerjakannya serta berlaku bodoh, maka Allah tidak butuh kepada ia meninggalkan makanan dan minumannya.” (HR. Bukhari dan Abu Dawud. Lafadznya menurut riwayat Abu Dawud)

 

Oleh karena itu orang yang berpuasa dituntut menjaga puasanya. Yaitu dengan cara menghiasi diri dengan amal shalih dan akhlak mulia, serta menjauhi dosa  dan akhlak yang buruk. Dengan ini ia akan memperoleh hasil puasa sebagai perisai dari adzab dan murka Allah serta mendapat pahala.

Jangan   hanya fokus meninggalkan pembatal puasa saja. Tapi tinggalkan perbuatan buruk dan sia-sia agar puasa  tetap terjaga.  Agar perisai kita tetap kuat menahan gempuran syahwat di dunia dan ancaman siksa di akhirat. []

 

 

Realted Posts

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Top Ad