Post Top Ad

artikel

Seperti Sekolah Jaman Kolonial



Hari ini merupakan hari kedua sekolah di sekolah kami. Siswa di sekolah kami masuk sekolah sedikit mundur satu pekan dibanding sekolah lain. Alasannya karena setelah Penilaian Akhir Semester (PAS) siswa tidak libur ke rumah, tapi berlibur di pondok. Sekolah kami kebetulan berasrama atau berbasis pesantren. Sehingga libur Idul Fitri dibuat lebih panjang. Anak-anak menjalani liburan di rumah sejak pertengahan Ramadhan. Lebih kurang 40 hari.


Saya sendiri baru masuk sekolah pada hari kedua. Tentu setelah meminta izin kepada Kepala Sekolah dan pihak Yayasan. Sebab saya sampai di pondok hari Senin sore yang bersamaan dengan hari pertama masuk sekolah atau hari kedua santri masuk asrama. Hal ini dikarenakan oleh waktu perjalanan tiga malam empat hari via laut melalui kapal Pelni. Saya berangkat dari rumah sejak hari Jum'at pagi dan sampai di Bogor hari Senin sore.

Walau hari pertama masuk sekolah pada Senin (07/06), namun kegiatan belajar kepesantren sudah dimulai sejak santri masuk pondok secara resmi tanggal 6 Juni atau sehari sebelumnya. Sebagian santri juga ada yang datang sehari dan dua hari sebelumnya.


Sayangnya kegiatan belajar mengajar (KBM) di kelas belum berjalan normal. Bahkan dapat dikatakan belum berjalan sama sekali. Para siswa mengabiskan waktu hanya dengan ngobrol dan bercanda. Guru-guru juga belum nampak hadir secara maksimal. Hanya beberapa yang kelihatan di ruang guru. MIRIS.


MIRIS. Seperti sekolah di jaman kolonial. Teringat semasa SD dahulu. Biasanya hari pertama dan kedua pasca liburan belum ada pembelajaran. Hari pertama dan kedua biasanya dilakukan kerja bakti bersih-bersih kelas dan lingkungan sekolah. 

08/06/2021


Anak millenial diperlakukan seperti sekolahan jaman kolonial. 

Realted Posts

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Top Ad