Post Top Ad

artikel

Bersyukur dan Bangga Sebagai Muslim

 


Bersyukur dan Bangga Sebagai Muslim

Sebagai Muslim kita patut bersyukur dan berbangga. Menyandang status sebagai Muslim merupakan kemuliaan. Karena, “Al-Islamu yu’la wa la yu’la ‘alaihi; Islam itu tinggi, dan tidak ada yang melebihi ketinggiannya”, kata Baginda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi  Wasallam.

Sayangnya sebagian Muslim merasa tidak perlu bersyukur dan berbangga sebagai Muslim. Baginya menjadi Islam merupakan sesuatu yang biasa-biasa saja.

Bahkan mungkin ada sebagian yang merasa minder dengan keislamannya, lalu menyembunyikan identitas keislamannya. 

Ada yang secara sadar atau tidak, malu menampakkan pola pikir, cara pandang dan gaya hidup yang Islami. Sehingga pura-puar tidak Islami dan bangga dengan sikap seperti itu.

Kita lahir sebagai Muslim karena orangtua kita Muslim”, kata sebagian orang.  Lalu apa yang harus dibanggakan dengan predikat sebagai Muslim?

Menurut Dr. Adian Husaini dalam bukunya “10 Kuliah Agama Islam; Panduan Menjadi Cendekiawan Mulia dan Bahagia”, ada 4 alasan mengapa kita harus bangga dan bersyukur menjadi Muslim.

Pertama, Dari aspek nama agama, Islam adalah nama Agama yang datang langsung dari Allah, melalui Nabi-Nya dan termaktub dalam Kita Suci-Nya, yakni Al-Qur’an. Sebagaimana secara tegas dinyatakan oleh dalam beberapa ayat-Nya;

Sesungguhnya Agama yang diridhai di sisi Allah adalah Islam”. (Qs. Ali Imran: 19).

Ayat di atas menegaskan bahwa Islam adalah nama agama, dan agama satu-satunya yang diterima dan diridhai oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Nama Islam dari Allah dan bukan hasil kesepakatan  orang Islam terdahulu. Bukan pula disematkan oleh para pengamat keagamaan seperti agama-agama lainnya.

Penamaan Islam juga tidak tunduk kepada perkembangan sejarah dan perubahan budaya. Sebab Islam bukan agama budaya, dan bukan pula agama sejarah, tapi agama wahyu yang datang dari Allah Ta’ala.

Jama’ah Jum’at yang dimuliakan Allah

Bukan Sekadar Pasrah

Ada sebagian cendekiawan yang memaksakan pemahaman, Islam bukan nama Agama. Menurut mereka Islam hanya sikap pasrah kepada Tuhan (submission to God). Alasannya adalah,  makna Islam secara bahasa adalah sikap pasrah dan berserah diri kepada Tuhan. Sehingga siapapun yang pasrah kepada Tuhan, maka dia adalah Muslim, apapun agamanya. “Karena Islam bukan nama agama”, kata mereka.

Pandangan ini keliru, sebab meskipun istilah Islam secara bahasa bermakna pasrah, tunduk, dan berserah diri, tetapi bukan berarti Islam hanya diartikan sebagai “sikap pasrah dan berserah diri kepada Tuhan semata”, tanpa melihat cara pasrah dan kepada Tuhan yang mana.

Sebab Islam adalah Agama yang mengajarkan cara pasrah dan kepada Tuhan yang mana sikap pasrah itu ditujukan. Islam mengajarkan bahwa sikap pasrah yang benar adalah pasrah kepada Allah dengan cara yang diajarkan oleh Allah melalui Rasul-Nya, Muhammad shallallahu ‘alaihi  wa sallam.

Inilah hakikat pasrah sebagai inti dari makna Islam, yakni, “Berserah diri kepada Allah melalui Tauhid dan tunduk kepada-Nya dengan berbuat taat serta berlepas diri dari kesyirikan dan pelaku perbuatan syirik”. (Al-Ushul Al-Tsalathah).

Jadi, menurut Islam cara pasrah yang benar kepada Allah adalah dengan dengan mengikuti cara yang ibadah yang diajarkan Allah melalui Nabi-Nya.

Kedua, Islam merupakan agama wahyu yang final. Sebagai agama wahyu yang final Islam memiliki konsep dasar dan ajaran yang juga bersifat final, yang tidak tunduk kepada perubahan zaman, pergantian tempat, dan budaya. Konsep Aqidah dan tauhid Islam tidak berubah. Syahadat Islam tidak pernah berubah sepanjang zaman. Karena konsep Aqidah dan tauhid dalam Islam tidak pernah mengalami evolusi dari eksklusif menjadi inklusif lalu pluralis. Tidak. Konsep aqidah tauhid Islam tetap dan tidak berubah, serta tidak tunduk pada perubahan zaman dan budaya.

Demikian pula dalam aspek ritual ibadah. Sudah lebih 1400 tahun, cara Shalat Umat Islam tidak berubah. Kapan dan di mana saja umat Islam melakukan gerakan dan membaca bacaan shalat yang sama. Kaum Muslimin tidak pernah dan tidak akan mungkin merubah bacaan dan ritul Shalat mereka. Karena bacaan dan gerakan Shalat bersifat final dan tetap sebagaimana diajarkan oleh Nabi Muhammad, “Shalatlah kalian seperti kalian melihat aku shalat”.

Demikian pula halnya dalam ibadah puasa, zakat dan haji. Semuanya bersifat final dan tidak tunduk  kepada  perubahan waktu dan tempat. Di manapun cara puasa umat Islam sama, yakni menahan diri dari makan dan minum serta pembatal puasa lainnya sejak terbit fajar hingga terbenam matahari. Zakat juga seperti  itu. Syarat dan ketentuan zakat  berlaku umum di seluruh belahan dunia berdasarkan tuntunan Al-Qur’an dan hadits Nabi shallalhu ‘alaihi wa sallam.

Jadi,Islam bukan agama budaya. Karena Islam tidak tunduk oleh budaya, meskipun Islam tetap menyesuaikan dengan aspek budaya dalam pelaksanaan ajaran-ajarannya.

Inilah bukti dan alasan kedua, mengapa kita patut bangga dan bersyukur sebagai Muslim. Karena kita memeluk agama wahyu yang final dan tidak tunduk pada perubahan zaman dan budaya buatan manusia.

 

Ketiga, Islam memiliki teladan abadi dan sempurna (uswah hasanah), yaitu Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Model ini sangat lengkap dan paripurna serta terbebas dari dosa dan salah (ma’shum). Konsep ‘’uswah” atau teladan paripurna dan model sempurna seperti ini tidak ditemukan dalam ajaran dan paham manapun di dunia ini.

 

 

Sebagai model abadi  yang lengkap dan utuh, ucapan dan perilaku nabi Muhammad menjadi contoh dan teladan bagi umat Islam. Keteladanan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mencakup seluruh sisi dan aspek kehidupan. Tidak ada sifat baik yang patut dijadikan teladan dan panduan  dalam seluruh aspek kehidupan, melainkan semuanya ada pada diri dan sosok nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Mulai dari adab dan cara tidur-bangun tidur, makan, minum, masuk kamar mandi, berkendaraan, sampai cara berdagang, memimpin perang, memimpin negara, memimpin keluarga, dan sebagainya, semuanya ada contoh teladan dari nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ini istimewa dan khas Islam.

Ini sangat patut kita syukuri, karena dalam beragama dan menjalani kehidupan, kita mendapatkan panduan langsung dari utusan Tuhan yang maha kuasa; tidak meraba-raba dalam kegelapan dan berspekulasi.

Hal ini tidak terelepas dari keunikan Islam sebagai agama wahyu yang final seperti dijelaskan sebelumnya. Dengan karakteristik Islam sebagai agama wahyu, yang secara ketat berpegang kepada Wahyu Allah, Al Qur'an dan As Sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam semua aspek kehidupan, maka umat Islam pun memandang bahwa pelaksanaan  ajaran Islam adalah bagian dari kewajiban mereka untuk mengikuti Sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Sebab, Nabi Muhammad adalah Uswatun Hasanah dalam seluruh aspek kehidupan.

Hanya umat islam-lah yang kini tetap memegang teguh konsep "Uswatun Hasanah" terhadap seorang nabi. Mulai bangun tidur hingga tidur lagi, umat Islam berusaha meneladani Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam, karena beliau memang contoh teladan yang lengkap dari paripurna.

Jama’ah Jum’at yang dimuliakan Allah

Konsep Uswatun Hasanah Islam ini tidak mungkin diikuti oleh kaum Yahudi, Kristen, Hindu, Budha, komunis atau kaum sekuler Barat. Karena itu, meskipun orang-orang Barat beragama Kristen, mereka menetapkan sistem hukum, politik, ekonomi, sosial, budaya, bukan berdasarkan kepada Bibel, atau menjadikan Yesus sebagai teladan dalam seluruh aspek kehidupan.

Begitu juga dengan kaum komunis. Mereka tidak bisa menjadikan Karl Marx sebagai suri teladan dalam seluruh aspek kehidupan mereka. Orang komunis tidak akan mencontoh seluruh perilaku Karl Marx, yang memang seorang pemabuk dan jarang mandi.

Silahkan diteliti, apakah ada agama atau perbedaan yang memiliki contoh yang lengkap seperti nabi Muhammad shalllahu ‘alaihi wa salalam. Uniknya, sang nabi yang mulia itu tidak pernah semenitpun, namanya tidak disebutkan dan di doakan.

Itulah alasan ketiga, kenapa kita patut bersyukur dan bangga sebagai muslim. Sebab, kita memeluk agama wahyu yang memiliki suri teladan yang abadi. Ini juga bukti bahwa Islam bukan agama buatan manusia (produk budaya), karena seluruh ajaran Islam bertumpu pada keimanan (kesaksian) kepada Allah dan kepada nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam. Syahadat Islam itu pun bersifat abadi.


Ketika seorang menjadi muslim seyogyanya seseorang mensyukuri nikmat dari Allah subhanahu wa ta'ala tersebut. Menjadi  muslim juga seyogyanya merupakan sebuah kebanggaan, karena menjadi Muslim berarti telah memeluk satu-satunya agama wahyu: satu-satunya agama yang diturunkan Allah subhanahu wa ta'ala kepada para nabi-Nya. Sikap bangga sebagai Muslim inilah yang tertanam kuat pada generasi pertama kaum Muslim di masa Nabi shallallahu alaihi wasallam,  sehingga mereka menjadi umat yang mulia, umat yang sangat disegani oleh berbagai kaum yang lain, sebagaimana dijelaskan dalam  Surah Al-Ma'idah [5] ayat 54,  dan  Surah Ali 'Imran [3] ayat  139.

 

Namun  kebanggan dan kesyukuran tersebut, bukan hanya karena karakteristik Islam yang unik sebagai satu-satunya agama wahyu yang murni. Tapi rasa syukur dan bangga menjadi Muslim juga patut dipanjatkan sebagai Muslim, sebab Islam adalah agama yang telah terbukti mampu menjelmakan peradaban yang agung dalam sejarah. Islam bukan hanya konsep yang Utopia atau angan-angan di atas kertas belaka. Tetapi, Islam adalah konsep-konsep praktis yang bisa dan telah memimpin peradaban dunia selama ratusan tahun. []

Realted Posts

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Top Ad