Post Top Ad

artikelrefleksi

Ketika Rokok dan Kuota Lebih Penting dari Sepiring Nasi



Bagi sebagian orang di zaman kiwari  kadang kuota internet jauh lebih penting daripada sepiring nasi plus lauk pauk pengganjal perut lapar. Masak seh


Jika punya duit yang terbatas tapi belum makan dan bersamaan dengan kuota internet habis, maka bagi sebagian orang seperti disebut di atas lebih baik beli kuota daripada beli nasi. 

Kalau beli nasi, ntar g punya kuota. G ada kuota artinya tidak bisa keluyuran di dunia maya. Tapi kalau punya kuota dan belum makan, tinggal update status, "lapar", "Bagi makan dong, belum makan sejak pagi".

Itulah kenapa kuota lebih penting daripada sepiring nasi walau sedang lapar. 


Teringat dua dasa warsa yang lalu, seorang kawan bercerita tentang kelakuan seseorang yang ditemuinya di lingkungan kost-kost-an mahasiswa di kotanya. 

Ceritanya, ada seorang pemuda pecandu rokok yang kehabisan kiriman dari kampung halaman. Duit yang tersisa hanya cukup buat beli sebungkus rokok dan atau sepiring nasi. Hatinya galau antara beli nasi atau beli rokok. Kalau beli nasi tidak merokok. Jika beli rokok tidak makan. 

Setelah menimbang dan berpikir, ia putuskan membeli rokok. Ingat, ia seorang pecandu rokok. Rokok sudah menjadi sumber energi bagi dia. Ia merasa lemas kalau tidak merokok. Sehingga ia putuskan beli rokok.


Alasannya adalah, "Kalau saya beli nasi kemudian kelihatan lemas dan loyo karena tidak merokok belum tentu ada yang iba kepada saya dan memberi rokok", kilahnya. "Tapi kalau saya kelihatan pucat dan lemas karena belum makan orang pasti kasihan dan akan beri makanan".


Ya seperti itulah kelakuan sebagian orang. Tidak bisa memilah dan membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Atau tidak dapat memilah mana kebutuhan primer yang asasi dan mana sekedar pelengkap. 

Realted Posts

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Top Ad