Post Top Ad

artikel

Selamat Jalan Akhi

 

Selamat Jalan Akhi

Kita memang sekampung, berasal  dari satu daerah. Kita sama-sama dari daratan Pulau Muna Sulawesi Tenggara. Namun kita baru saling kenal di perantauan, kota Makassar.

Kita bertemu di tanah rantau sebagai sesama pencari ilmu di kampus yang sama, yakni Sekolah Tinggi Ilmu Islam dan Bahasa Arab. Kampus kebanggaan kita dan semua civitas akademiknya.

Betapa tidak, STIBA menjadi medan juangmu di jalan Allah sejak kedatanganmu di kota berjuluk Serambi Madinah itu hingga akhir hayatmu.

Masih teringat saat hari-hari pertama di Sekolah Tinggi Tidak bAyar itu. Karena tidak memiliki dasar bahasa Arab yang mumpuni, kamu tidak lolos dalam seleksi penerimaan Mahasiswa Baru. Tapi tekadam untuk belajar tidak surut.

Gayung bersambut, organsisasi mahasiswa yang yang juga termasuk pengurusnya mengadakan bimbingan khusus untuk para calon maba yang gagal masuk. Bimbinga  tersebut dinamai ‘’Program Non Intensif”.

Kebetulan waktu itu saya termasuk salah satu fasilitator dan pengajar di program tersebut.  Di sinilah awal mula saya mengenal bahwa, Hamudin adalah seorang pekerja keras  yang ikhlas. Berkat kerja kerasmu (yang  tentu juga atas takdir Allah), kamudapat diterima sebagai mahasiswa di kampus kita tercinta.

Dan semenjak mengenalmu saya hanya tahu bahawa kamu adalah pekerja keras yang ikhas dan pantang menyerah. Saya dan kawan-kawan serta para asatidz menjadi saksi akan hal ini. Di tengah berbagai keterbatasan (seperti juga saya) kamu dapat menyelesaikan kuliah S1 di dua kampus. Dan Alhamdulillah kamu juga berhasil menyelesaikan Strata dua (S2).

Saya juga menyaksikan kerja kerasmu saat kampus kita yang dipelesetkan sebagai Sekolah Tinggi tIdak Bayar beralih menjasi SekolahTIba-tiba Bayar. Peralihan itu cukup membuat sebagian mahasiswa kalangkabut. Termasuk saya dan kamu. Mahasiswa yang beradal dari keluarga berada tidak terlalu merasakan hal itu sebagai kendala. Tapi bagi kita-kita hal itu menjadi kendala.

Jika harus minta kepada orangtua ada perasaan sungkan dan tidak enak. Karena orangtua di kampung halaman terlanjur tahu, kita kuliah di kampus yang menggratiskan biaya kuliah, buku, dan asrama bagi mahasiswanya. Selain itu kondisi orangtua kita di kampung juga ada keterbatasan.

Sehingga saat itu  sebagian mahasiswa berpencar mencari pekerjaan sambilan di luar kampus pada hari libur. Dan saya menjadi saksi atas kerja kerasmu dalam hal ini.

kerja keras dan ikhlasmu kemudian mengantarkan kamu menjadi bagian dari civitas akademik kampus kita. Seingat saya semenjak menamatkan kuliah dari STIBA kamu telah mengurusi kitab-kitab di Perpustakaan kampus kita. Dan masya Allah. Antum benar-benar menjadikan maktabah sebagai ladang juang dan amal antum hingga akhir hayat.

Sabtu (27/11/2021) pagi, tepatnya saat buka gawai saya dikagetkan dengan pesan di berbagi Whats App Grup yang berisi kabar duka kepergianmu. Tanpa sadar, dada bergemuruh dan air mata menetes. Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Sungguh hati ini sedih, mata ini meneteskan airnya, tapikita tidak mengatakan apa yang tidak diridhai Allah.

Engkau pergi dengan husnul khatimah insya Allah. Hari Jum’at masih sempat menyampaikan khutbah Jum’at. Sebuah rutinitas yang telah engkau jalani setiap Jum’at semenjak satu dasa warsa. Masih sempat menghadiri shalat Maghrib dan Isya berjama’ah. Namun lewat tengah malam, engkau kembali kepada sang pencipta.

Semoga Allab terima amal baikmu dan ampuni kesalahanamu.

Padamu kami belajar banyak hal. Terutama tentang kerja keras, kerja ikhlas, tulus dan tuntas. []

Realted Posts

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Top Ad