Post Top Ad

artikel

Kebhinekaan Seperti Apa yang Dimaksud?

Baru-baru ini heboh ucapana seorang pejabat publik yang mengatakan, "Tuhan bukan orang Arab".

Kalimat sebelumnya adalah tentang do'a. Doa bisa dengan bahasa Indonesia. 

Menganjurkan berdoa dengan bahasa Indonesia dan atau bahasa apapun tidak masalah.

Yang  masalah adalah kata-kata "Tuhan bukan orang Arab". Seolah-olah ada sentimen kesukuan di sini. 

Orang Islam berdoa dengan bahasa Arab bukan karena meyakini, Tuhan itu orang Arab. Tapi karena do'a itu adalah ibadah. Ibadah yang ada ketentuannya sebagaimana diatur dalam syariat. Diantaranya do'a dianjurkan dalam bahsa Arab. Khsusnya doa yang dipanjatkan dalam shalat dan do'a yang lafalnya berasal dari Al-Qur'an dan hadits.

Doa' yang beasal dari Qur'an dan hadits dan atau do'a yang dipanjatkan di dalam shalat seperti pada saat sujud, hendaknya tetap berbahasa Arab. 

Sedangkan do'a di luar shalat dan atau do'a yang dirangkai sendiri dapat dipanjatkan dengan bahasa apa saja.

Tapi tidak perlu ada narasi yang menyeret-nyeret suku bangsa tertentu dengan mengatakan, "Tuhan bukan orang Arab". Karena Tuhan bukan orang. 

Narasi ini juga bertentangan dengan kebhinekaan. 

Sebenarnya kebhinekaan macama apa yang diinginkan pejabat kita?

Apakah kebhinekaan tanpa syariat  dan syiar Islam di ruang publik?

Realted Posts

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Top Ad