Post Top Ad

artikel

Mendudukkan Polemik Gaji Layak Guru Al-Qur'an



Berhari lalu marak di lini masa facebook curhatan seseorang tentang putranya yang hafidz Qur'an bekerja sebagai buru pabrik. 


Sebenarnya bukan aib sama sekali seorang alumni Pesantren Tahfidz Qur'an menjadi pekerja pabrik, selama pabrik tersebut bukan produsen barang haram.


Namun yang menarik adalah pengakuan bapak tersebut, sang putra pernah mengajar di Pesantren setelah tamat dari Pesantren. Tetapi dia memilih keluar karena hanya digaji Rp 500.000/bulan. Sementara di pabrik dia memperoleh gaji Rp 4.800.000 + uang makan.


Unggahan bapak tersebut menuai tanggapan yang beragam. Pro dan kontra tak dapat dielakkan. 


Dari semua tanggapan yang paling bijak menurut saya adalah berusaha menempatkan segala sesuatu secara tepat. Saya merasakan, isi hati dan kepala saya terkait masalah ini telah terwakili oleh tulisan seorang netizen atas nama Najih ibn Abdil Hameed. 


Beliau mengajak agar semua pihak yang terkait, baik pengajar, pengelola, penyelenggara, dan orangtua peserta didik  didudukkan di posisi masing-masing sesuai kemampuan, wewenang dan tanggung jawabnya. 


Beikut tulisan beliau selengkapnya. 


 


 

Dudukkan di posisi masing masing.

Oleh: Najih Ibn Abdil Hameed


1. Jika Anda pelajar agama, jomblo yang tidak memiliki beban tanggung jawab istri dan anak, biaya hidup Anda masih dijamin orang tua, maka mengajarlah untuk mengabdi, jangan nuntut bayaran apalagi bayaran mahal. Anda berada di maqam tajrid.


2. Jika Anda sudah berkeluarga, ada anak istri yang wajib dinafkah, sedangkan Anda memiliki pekerjaan utama yang cukup untuk sumber ekonomi, maka bekerjalah, dan mengajarlah di waktu luang, untuk mengabdi, jangan menjadikan ilmu agama sebagai sumber penghasilan utama. Anda di maqam asbab.


3. Jika Anda berkeluarga, tidak memiliki pekerjaan kecuali mengajar, sedangkan bisyaroh dari mengajar tidak cukup untuk memenuhi kewajiban memberi nafkah keluarga, maka carilah pekerjaan lain selain mengajar. Mengajar adalah ibadah fardhu kifayah sedangkan mencari nafkah adalah fardhu ain bagi Anda. Maka utamakan yang lebih wajib. Setelah menemukan pekerjaan, kembalilah ke poin 2.


4. Jika Anda berkeluarga, tidak memiliki pekerjaan kecuali mengajar, sedangkan bisyaroh dari mengajar sudah mencukupi untuk nafkah, minimal UMR, maka mengajarlah dengan serius sepenuh hati, niat mengabdi, niat berdakwah, jangan niat mengajar untuk mendapat upah, karena Anda memang ditempatkan oleh Allah pada maqam tajrid.


5. Jika Anda sebagai pengelola pendidikan, kyai, kepala sekolah, pemerintah, sedangkan sekolah/pesantren yang Anda kelola adalah kelas atas, artinya mayoritas wali murid punya kemampuan untuk membayar SPP, atau memiliki unit usaha, atau dibantu pemerintah, maka hargailah waktu tenaga dan pikiran para guru yang Anda pekerjakan. Berikan bisyaroh yang layak, minimal setara guru PNS. Jangan jadikan mereka budak untuk memperkaya lembaga dan pengelola, dengan alasan agama.


6. Jika Anda pengelola pendidikan, kebetulan berada di daerah pinggiran, yang ekonomi wali murid rata rata menengah ke bawah, tidak memungkinkan untuk menarik SPP mahal, maka carilah guru dari golongan poin 1 atau 2 dengan kesepakatan di awal, berapa bisyaroh yang akan mereka terima. Jangan memaksakan guru yang posisi di poin 3 atau 4 untuk kerja bakti di lembaga Anda. Apalagi mengancam mereka yang kebetulan alumni pesantren "kalau kamu tidak mau mengajar tanpa bayaran, dan memilih bekerja di pabrik, maka ilmu kamu tidak bermanfaat"


7. Dudukkan di posisi masing masing. Jangan memaksakan satu ketentuan untuk menghukum kondisi orang yang berbeda beda.


8. Bagikan status ini untuk menetralkan komentar negatif yang berkeliaran terkait pesantren dan alumni tahfiz yang memilih kerja di pabrik.


9. Jika Anda adalah orang tua, ingat kewajiban mendidik anak adalah kewajiban orang tua, bukan kewajiban guru. Maka, ketika orang lain telah mencurahkan ilmu, pikiran, dan umurnya untuk menggantikan kewajiban Anda, sudah selayaknya Anda membayar mahal untuk memuliakan mereka. Terutama bila Anda mengetahui guru guru yang mendidik anak Anda berada di poin 1, 2, 3, dan 6. Ini bukan tentang guru tapi tentang keberkahan ilmu anak Anda

 

 


Realted Posts

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Top Ad